FAKTOR -FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu s...
loading...
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu sektor pembangunan Nasional
adalah pembangunan di bidang kesehatan. Tujuan pembangunan dibidang kesehatan
adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sehingga dapat
meningkatkan sumber daya manusia yang baik sebagai salah satu unsur dari
kesejahteraan umum dan tujuan Nasional. Sebagaimana tercantum dalam
Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 3 menyebutkan bahwa
tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal
(Depkes RI, 2005).
Untuk mewujudkan keadaan yang sehat
banyak hal yang perlu dilakukan. Salah satunya yaitu kita sebagai warga negara
Indonesia sebaiknya ikut menyukseskan program pembangunan kesehatan yang
dicanangkan oleh pemerintah dengan cara berusaha untuk memelihara kesehatan
mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat serta lingkungan sekitar.
(Astawan Made, 2009).
Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
ada beberapa pendekatan (approach), yaitu kesehatan di dalam berbagai
pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif), pemulihan (promotif),
dan rehabilitatif. Keempat pendekatan tersebut dilaksanakan secara
bersamaan dan berkesinambungan dalam menanggulangi masalah kesehatan. Khusus
mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA),
pemerintah mengadakan suplementasi vitamin A dosis tinggi yang di laksanakan di
seluruh Posyandu di seluruh Puskesmas di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan World Health Organization (WHO) tahun
1992 menunjukkan dari 20 juta balita di Indonesia yang berumur enam bulan
hingga lima tahun, setengahnya menderita kekurangan vitamin A. Sedangkan data
WHO tahun 1995 menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang
tingkat pemenuhan terhadap vitamin A tergolong rendah (www.sinarharapan.com, 2008).
Sementara studi yang dilakukan Nutrition and Health Surveillance System
(NHSS), dan Departemen Kesehatan (2007) menunjukkan sekitar 50% anak Indonesia
usia 12-23 bulan tidak mengkonsumsi vitamin A dengan cukup dari makanan
sehari-hari. Siti Halati, Manajer Lapangan Operasional HKI, mengatakan angka
kecukupan gizi (AKG) anak balita sekitar 350 Retinol Ekvivalen (RE). Angka ini dihitung dari kandungan vitamin A
dalam makanan nabati atau hewani yang dikonsumsi.
Bila dibandingkan dengan angka
kebutaan di negara-negara regional Asia Tenggara angka kebutaan di Indonesia
(1,5%) merupakan yang tertinggi setelah Bangladesh (1%), India (0,7%), dan
Thailand (0,3%). Sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengalami kebutaan
berasal dari status ekonomi kurang mampu dan belum akses langsung dengan
pelayanan kesehatan (Astuti, 2008, Mataku Sehat, Tubuhku Kuat, 4,
http://www.depkes.go.id, diperoleh tanggal 29 Mei 2010).
Program
suplementasi kapsul vitamin A pada ibu nifas di Indonesia sejak 1996 bertujuan
meningkatkan status vitamin A ibu nifas dan
diteruskan ke bayi melalui ASI. Riskesdas 2010 menunjukkan hanya satu dari 2
ibu nifas mendapatkan kapsul
vitamin A, lebih rendah dibanding cakupan balita. Penelitian menggunakan data
sekunder Riskesdas 2010, mencakup 19.000 ibu 1059 tahun yang ditanyakan
mendapat kapsul vitamin A saat masa nifas anak terakhir yang lahir pada periode
lima tahun terakhir. Cakupan suplementasi vitamin A ibu nifas 56,1% bervariasi
3570% antar provinsi, lebih tinggi di perkotaan (61,4%) dibandingkan perdesaan
(50,8%).
Menurut data BPS Provinsi Jawa Barat
(2009), angka kematian bayi (AKB) mencapai 43,4 per 1.000 kelahiran hidup. Sebanyak
606.470 balita di Jawa barat teridentifikasi kekurangan kadar serum vitamin A
atau 19,4% dari total keseluruhan balita. Dengan jumlah tersebut, kekurangan
vitamin A menjadi masalah kesehatan publik karena berdasarkan standar
International Vitamin A Consultative
Group, batas prevalensinya adalah 15%. Berdasarkan kondisi tersebut,
pemerintah Provinsi Jawa Barat mengingatkan agar segera melakukan upaya secara
sinergis sehingga dapat tercapainya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan akses pelayanan kesehatan bagi bayi dan balita.
Masa nifas disebut juga masa post
partum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan
plasenta keluar dari rahim, Sampai 6 minggu berikutnya, disertai dengan
pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami
perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan.
(suherni S.Pd, M.Kes, dkk 2009)
Ibu nifas yang cukup mendapat vitamin
A akan meningkatkan kandungan vitamin A dalam air susu ibu (ASI), sehingga bayi
yang disusui lebih kebal terhadap penyakit. Disamping itu kesehatan ibu lebih
cepat pulih. Upaya perbaikan status vitamin A harus mulai sedini mungkin pada
masa kanak-kanak terutama anak yang menderita KVA (Depkes RI, 2005).
Vitamin A esensial untuk pemeliharaan
kesehatan dan kelangsungan hidup. Di seluruh dunia (WHO, 2005), diantara anak-anak
pra sekolah diperkirakan terdapat sebanyak 2-3 juta kasus baru xeropthalmia tiap tahun, kurang lebih
10% diantaranya menderita kerusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan
kornea ini 60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang hidup
25% menjadi buta dan 50-60% setengah buta.
Vitamin merupakan suatu zat
senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh yang berfungsi untuk
membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Salah satu jenis vitamin yang
harus diperhatikan adalah vitamin A. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk
lainnya tidak akan dapat melakukan aktivitas karena kekurangan vitamin, karena
menyebabkan peluang terkena penyakit pada tubuh (Siswono, 2009, Ibu dan anak
sehat berkat vitamin A, 2, http://www.gizi.net, diperoleh tanggal 06 mei XXX).
Peranan vitamin A lainnya adalah
sebagai antioksidan yang membantu merangsang dan memperkuat
daya tahan tubuh dalam meningkatkan aktivitas sel pembunuh kuman (natural
killer cell),
memproduksi limfosit, fagositosis, dan antibodi. Bahkan
kegunaan vitamin A termasuk memperkuat kekebalan selular yang menghancurkan sel
kanker.
Saat ini kekurangan vitamin A menjadi
masalah kesehatan dunia. Masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan diperkirakan
mengalami kekurangan vitamin A dengan resiko yang sangat mengkhawatirkan
(Siswanto, 2007, Setiap Satu Menit Orang di Indonesia Alami Kebutaan. 2,
http://www.litbang.depkes.go.id. Diperoleh tanggal 09 Mei XXX).
Departemen Kesehatan sendiri gencar
melakukan program penanggulangan kekurangan vitamin A sejak tahun 1970-an.
Menurut catatan Depkes, tahun 1995 bahaya kebutaan akibat kekurangan vitamin A
mampu diturunkan secara signifikan. (www.sinarharapan.com,
2009).
Dan menurut data yang diperoleh dari
Dinas Kesehatan XXX tahun 2014, dari sasaran ibu nifas sebanyak 57.662, terdapat
46.857 ibu yang mendapat vitamin A.
Dari hasil studi pendahuluan di
wilayah kerja puskesmas XXX tahun 2014, dari 1953 ibu nifas, sebanyak 1155 ibu
nifas yang memperoleh vitamin A dan pada tahun XXX periode Januari April
tardapat 573 ibu nifas yang mendapat dan mengkonsumsi kapsul Vitamin A.
Berdasarkan dari data diatas maka
penulis tertarik untuk meneliti Faktor-faktor
yang berhubungan dengan Pemberian vitamin A pada ibu nifas di wilayah kerja
Puskesmas XXX Periode Januari April Tahun XXX
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan data diatas, yang menjadi
masalah dalam penelitian ini adalah masih banyaknya kasus ibu nifas yang tidak
mengkonsumsi vitamin A, berdasarkan penyebab uraian masalah tersebut maka dalam
latar belakang yaitu pemberian vitamin A pada ibu nifas, maka rumusan
permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan dari faktor
pengetahuan ibu, keadaan fisik ibu, dan waktu pemberian vitamin A dengan pemberian
vitamin A pada ibu nifas di Puskesmas XXX periode januari - april tahun XXX?.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu
nifas di Wilayah Kerja Puskesmas XXX periode januari april tahun XXX.
2.
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi
frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas mengenai Vitamin A di Wilayah Kerja
Puskesmas XXX periode januari - april tahun XXX.
b. Untuk mengetahui distribusi
frekuensi keadaan fisik ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas XXX periode
januari april tahun XXX.
c. Untuk mengetahui distribusi
frekuensi waktu pemberian vitamin A pada ibu nifas di Wilayah kerja puskesmas XXX
periode januari april tahun XXX.
d. Untuk mengetahui pemberian
vitamin A di Wilayah kerja puskesmas XXX periode januari april tahun XXX.
e. Untuk mengetahui hubungan
faktor pengetahuan ibu nifas dengan pemberian vitamin A di Wilayah kerja
puskesmas XXX periode januari april tahun XXX.
f. Untuk mengetahui hubungan
faktor keadaan ibu nifas dengan pemberian vitamin A di Wilayah kerja puskesmas XXX
periode januari april tahun XXX.
g. Untuk mengetahui hubungan
faktor waktu pemberian vitamin A dengan pemberian vitamin A di Wilayah kerja
puskesmas XXX periode januari april tahun XXX.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah faktor-faktor
yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas di Puskesmas XXX. Subjek
pada penelitian ini adalah ibu nifas di Puskesmas XXX pada bulan Januari sampai
april tahun XXX yakni sebanyak 25 responden. Data yang diambil pada penelitian
ini adalah data primer dan sekunder. Metode yang digunakan yaitu survey
analitik dengan pendekatan cross
sectional. Alasan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor faktor
yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas.
E. Kegunaan Penelitian
1.
Guna Teoritis (Keilmuan)
a.
Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan
menjadi suatu referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa XXX.
b.
Bagi Peneliti
Merupakan kegiatan belajar untuk menuangkan
kembali sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dibangku
kuliah.
2.
Guna Praktis
a.
Bagi Responden
Diharapkan dapat menambah pengetahuan
ibu tentang pentingnya pemberian vitamin A dan faktor-faktor yang berhubungan
dengan pemberian vitamin
A pada ibu nifas.
b.
Bagi Lahan Penelitian
Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas XXX
sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan dan menambah wawasan tenaga
kesehatan tentang perlunya vitamin A pada ibu nifas.