HUBUNGAN ANTARA PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH PADA IBU BERSALIN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...
loading...
HUBUNGAN ANTARA PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH
PADA IBU BERSALIN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2000 Angka
Kematian Bayi (AKB) didunia 54 per 1000 kelahiran hidup dan tahun 2006 menjadi
49 per 1000 kelahiran hidup. Menurut data dari Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2007 sebesar 34/1000 kelahiran hidup sedangkan angka
Kematian balita (AKBAL) pada tahun 2007 sebesar 44/1000 kelahiran hidup.(7)
Menurut WHO dalam Maryunani (2009) data berat bayi lahir rendah (BBLR) dirincikan
sebanyak 17% dari 25 juta persalinan pertahun didunia dan hampir semua terjadi
dinegara berkembang. Angka kejadian berat bayi lahir rendahdi Indonesia adalah
10,5% masih di atas angka rata-rata Thailand (9,6%) dan Vietnam (5,2%). Di
Indonesia, berat bayi lahir rendahbersama prematur merupakan penyebab kematian neonatal yang
tinggi.Angka berat bayi lahir rendahdi Indonesia secara nasional berdasarkan
analisa lanjut SDKI angka berat bayi lahir rendah sekitar 7,5%.(8)
Berdasarkan
survei
demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu masih tinggi yaitu
228/100.000 kelahiran hidup (KH), hal ini erat kaitanya dengan kurang baiknya penanganan komplikasi
obstetrik saat persalinan dan masih rendahnya status kesehatan ibu. Penyebab
kematian ibu secara langsung sebesar 90% sebagian besar adalah komplikasi yang
terjadi pada saat bersalin. Penyebab tersebut dikenal dengan trias klasik
yaitu perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%).(1)
Kontribusi
dari penyebab kematian ibu tersebut masing-masing adalah perdarahan 25%, infeksi
15% , preeklampsia-eklampsia 13%, aborsi 13%, sepsis 10%, serta partus lama 8%.
Salah satu penyebab kematian tersebut adalah preeklampsia-eklampsia yang
bersama infeksi dan pendarahan, diperkirakan mencakup 75%-80% dari keseluruhan
kematian maternal. Kejadian preeklampsia-eklampsia dikatakan sebagai masalah
kesehatan masyarakat apabila CFR (Case Fatality Rate)
preeklampsia-eklampsia mencapai 1,4%-1,8%. Preeklampsia-eklampsia yang tidak
ditangani dengan baik dapat mengakibatkan komplikasi terhadap janin maupun ibu.
Komplikasi pada janin dapat berupa asfiksia, berat badan lahir rendah, maupun preterm
infant.(2)
Angka
kejadian preeklampsia di Indonesia berkisar antara 3 hingga 10%. Di Indonesia
preeklamsia dan eklampsia merupakan penyebab dari 30-40% kematian perinatal
sementara dibeberapa rumah sakit di Indonesia telah menggeser perdarahan
sebagai penyebab utama kematian maternal. Preeklampsia dapat terjadi pada 30%
kehamilan ganda, 30% pada pasien hamil dengan diabetes, dan 20% pasien dengan
hipertensi kronis, walaupun pada dua pertiga kasus terjadi pada wanita nullipara
yang sebelumnya sehat.(3)
Angka kematian
bayi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari
pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan salah satu
indikator derajat kesehatan bangsa. Tingginya angka kematian bayi ini dapat menjadi petunjuk bahwa
pelayanan maternal dan noenatal kurang baik, untuk itu dibutuhkan upaya untuk
menurunkan angka kematian bayi tersebut.(6)
Angka
kematian ibu di Provinsi Jawa Barat periode Januari Desember 2013 yaitu
sebanyak 781 kasus kematian ibu atau sama dengan 83 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH). Dengan kontribusi penyebab kematian akibat faktor-faktor lain
sebanyak 254
kasus, perdarahan 248 kasus, hipertensi dalam kehamilan 229 kasus, infeksi 44
kasus, partus lama 5 kasus dan aborsi 1 kasus. Jumlah kasus kematian ibu
tertinggi tercatat di XXX yaitu sebanyak 78 kasus sedangkan di XXX sebanyak 9 kasus
kematian ibu. Dengan kontribusi penyebab kematian ibu di XXX periode Januari
Desember 2013 akibat perdarahan 37 kasus, hipertensi dalam kehamilan 21 kasus,
dan infeksi 7 kasus.(4)
Berdasarkan
profil kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2012 angka kematian bayi tercatat
6/1.000 KH.(9)
Jumlah kematian ibu di XXX tahun XXX yaitu sebanyak 37 orang. Kontribusi
penyebab kematian ibu yaitu akibat pendarahan 16 kasus, eklampsia 18 kasus,
faktor lain 2 kasus, dan infeksi 1 kasus.(5)
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan XXX ditemukan bahwa kejadian berat
bayi lahir rendahdi XXX sebanyak 1.962 kasus.(10)
Berdasarkan data dari XXX tahun XXX ditemukan bahwa kejadian berat bayi
lahir rendah sebanyak 24,2% dari
seluruh persalinan atau sebanyak 780 kasus berat bayi
lahir rendah dari 3.229 persalinan.(11)
Salah satu penyebab kematian neonatus tersering adalah bayi berat lahir
baik cukup bulan maupun kurang bulan (prematur). Pertumbuhan dan perkembangan
berat bayi lahir rendahsetelah lahir mungkin akan mendapat banyak hambatan.
Perawatan setelah lahir diperlukan bayi untuk dapat mencapai pertumbuhan dan
perkembangannya. Kemampuan ibu untuk memahami sinyal dan berespon terhadap bayi
prematur berinteraksi dan memberikan dekapan.(12)
Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah merupakan salah satu faktor
risiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa
perinatal selain itu berat bayi lahir rendahdapat mengalami gangguan mental dan
fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya sehingga membutuhkan biaya perawatan
yang tinggi.
Berdasarkan dari keadaan
tersebut penulis bermaksud untuk meneliti hubungan preeklampsia dengan angka
kejadian bayi berat bayi lahir rendah pada ibu bersalin di XXX. Penulis
tertarik meneliti hubungan preeklampsia dengan berat bayi lahir rendahpada ibu
bersalin karena preeklampsia merupakan salah satu faktor resiko yang dapat
menyababkan terjadinya eklampsia yang merupakan penyumbang angka kematian ibu
terbesar kedua setelah perdarahan berdasarkan trias klasik. Selain itu kejadian
berat bayi lahir rendahjuga merupakan salah satu faktor resiko yang dapat
menyebabkan berbagai komplikasi pada bayi dan merupakan salah satu penyumbang
penyebab angka kematian bayi. Penulis memilih XXX sebagai tempat penelitian
atas berbagai pertimbangan. Selain menjadi pusat rujukan, XXX juga merupakan
rumah sakit terbesar untuk daerah XXX dan sekitarnya. Dengan fungsinya sebagai
rumah sakit pemerintah, XXX melayani pasien dari segala aspek lapisan
masyarakat. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik meneliti
mengenai hubungan preeklampsia dengan kejadian berat bayi lahir rendah pada ibu
bersalin di XXX periode Januari Desember XXX.
B.
Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara preeklampsia dengan
kejadian berat bayi lahir rendah pada ibu bersalin di XXX periode Januari-
Desember XXX?.
C.
Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan
antara preeklampsia dengan kejadian berat bayi lahir rendah pada ibu bersalin
di XXX periode Januari-Desember XXX.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mengetahui gambaran
preeklampsia pada ibu bersalin di XXX periode Januari-Desember XXX.
b.
Mengetahui gambaran kejadian
berat bayi lahir rendah pada ibu bersalin di XXX periode Januari-Desember XXX.
c.
Mengetahui hubungan antara
preeklampsia dengan kejadian berat bayi lahir rendah pada ibu bersalin di XXX
periode Januari-Desember XXX.
D. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini
meneliti tentang hubungan antara preeklampsia dengan kejadian berat bayi lahir rendah.
Subjek penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di XXX periode Januari
Desember XXX.
Penelitian ini meneliti
tentang hubungan antara preeklampsia dengan kejadian berat bayi lahir rendah
karena preeklampsia merupakan salah satu dari trias klasik penyebab kematian
ibu tertinggi serta merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan berbagai
komplikasi baik pada ibu maupun janin, selain itu berat bayi lahir rendah
merupakan salah satu faktor yang menimbulkan berbagai komplikasi yang dapat
menimbulkan kematian bayi.
Penelitian ini dilakukan
pada bulan Mei Juni XXX di XXX.
Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode survei analitik
dengan pendekatan retrospektif.
E.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Teoritis
a.
Bagi Institusi
Sebagai penyelenggara
terkait dengan peningkatan keilmuan mendapatkan masukan yang bermanfaat guna
meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat dan untuk menambah wawasan ilmu
pengetahuan dan dapat dijadikan bahan referensi khususnya untuk bidang ilmu
kebidanan.
b.
Bagi peneliti
Diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan bahan perbandingan untuk penelitian yang akan
datang khususnya mengenai hubungan antara preeklampsia dengan kejadian berat
bayi lahir rendah pada ibu bersalin.
2.
Manfaat praktis
a.
Bagi XXX
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk petugas kesehatan yang berada di
XXX untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan.
b.
Bagi peneliti
Penelitian ini menjadi
pengalaman penulis serta sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan teori dalam
rangka menambah wawasan salah satunya untuk mengetahui hubungan antara
preeklampsia dengan kejadian berat bayi lahir rendah di XXX.